Sabtu, 22 Mei 2021

KEAGUNGAN SURAT AL IKHLAS

 Ada Apa dengan Al-Ikhlas??? 

Diantara sekian banyak surat2 pendek dalam Al-Qur'an, surat Al-Ikhlas biasanya menjadi salah satu surat favorit yg kita baca dalam sholat2 kita. (betul kan?? ngaku...)

selain suratnya pendek, bacaannya mudah, ternyata S. Al-Ikhlas mempunyai keutamaan yg sangat banyak,...
Banyak hadist2 Rasulullah yg mengungkap tentang keutamaan S. Al-Ikhlas, diantaranya:

 "Barangsiapa membaca S. Al-Ikhlas 50 kali, diampuni dosa-dosanya selama 50 tahun."

 "Baransiapa membaca (قل هو الله احد) sepuluh kali, dibangunkan baginya satu istana di surga, danbarangsiapa membacanya 20 kali, dibangunkan baginya dua istana di surga, dan barangsiapa membacanya 30 kali, dibangunkan baginya 3 istana di surga."

 Barangsiapa membaca S. Al-Ikhlas kekita memasuki rumahnya, niscaya akan menolak kefakiran bagi seluruh penghuni rumah itu bahkan juga bagi para tetangganya."

 "Barangsiapa membaca S. Al-Ikhlas ketika sakit yang menjadi sebab kematiannya, niscaya dia akan terbebas dari fitnah kubur, aman dari himpitan kubur, malaikat akan membawanya kelak dihari kiamat dengan sayap2nya hingga melewati shirat dan sampai ke surga."

Berapa lama waktu yg kita butuhkan untuk membaca S. Al-Ikhlas??? 1 menit? 30 detik?? atau bahkan kitacuma butuh 10 detik??

berapa banyak istana di surga yg bisa kita bangun jika kita senantiasa membasahi lisan kita dg bacaan S. Al-Ikhlas??
Berapa banyak dosa kita yg diampuni jika kita melazimi bacaan Al-Ikhlas??
Daripada waktu kosong kita berlalu begitu saja, tanpa ada nilainya... Alangkah lebih baiknya jika kita isi dengan dzikir, mengingatNya...

Semoga Allah memberi kita taufiq untuk senantiasa mengisi waktu2 kita dg ketaatan... Aamiin..

 Sumber: Khasyiah As-Shoowie 'ala tafsiiril Jalaalain

Diantarax jg faedah S.Al- IKHLAS
Rasulullaah Muhammad SAW pada suatu ketika bersabda :
”Demi Allah yang jiwaku di GenggamanNYA, sesungguhnya :

*QUL HUWALLAHU AHAD* itu tertulis di sayap Malaikat Jibril.

*ALLAHHUS SOMAD*  itu tertulis disayap Malaikat Mikail.

*LAMYALID WALAM YUULAD* tertulis
pada, sayap Malaikat Izra'il ,

*WALAM YAKULLAHU KUFUWAN AHAD*  tertulis pada sayap Malaikat Israfil "

Berkata Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: *Ketika saya {Rasulullah SAW} Isra’ ke langit, saya melihat Arasy di atas 360,000 pilar dan jarak jauh antara satu pilar ke satu pilar yang lain ialah 300,000 tahun perjalanan* . .

*Pada tiap-tiap pilar  itu terdapat padang pasir yang jumlahnya 12,000 dan luasnya setiap satu padang itu seluas dari Timur  hingga ke Barat* .

*Pada setiap padang itu terdapat 80,000 Malaikat yang mana kesemuanya membaca surat Al-Ikhlas* .

Setelah mereka selesai membaca Surah tersebut maka berkata mereka :

”Wahai Tuhan kami, sesungguhnya pahala dari bacaan ini kami berikan kepada orang yang membaca surah
Al-Ikhlas baik lelaki maupun perempuan.”.

Riwayat Anas bin Malik juga merekam kisah berkaitan surat Al-Ikhlas.

*Suatu ketika 70.000 Malaikat diutus datang kepada seorang sahabat di Madinah yang meninggal* .

Kedatangan para Malaikat itu hingga meredupkan cahaya matahari. *70.000 Malaikat itu diutus hanya  karena almarhum sering membaca surat ini* .

Anas bin Malik yang saat itu bersama Nabi Muhammad SAW di Tabuk merasakan cahaya matahari redup tidak seperti biasanya dan Malaikat Jibril datang kepada  Nabi untuk memberitakan kejadian yang sedang terjadi di Madinah.

Rasulullah S.A.W bersabda :
Barangsiapa membaca surah Al-Ikhlas sewaktu sakit sehingga dia meninggal dunia, maka tubuhnya tidak akan membusuk didalam kuburnya, akan selamat dia dari kesempitan kuburnya dan para Malaikat akan  membawanya dengan sayap mereka melintasi Titian Siratul Mustaqim lalu menuju ke Surga. (HR Qurthuby).

*SUBHANALLAH* ..........
Ya Allah, jadikanlah kami langgeng dalam membaca Surotul Al Ikhlas
menjadi manusia, sesuai yang disabdakan Nabi SAW,  ta;at dalam beribadah ,sehat dhohir wal bathin, bermanfaat untuk orang lain .dan wafat dalam khusnul khotimh.

Sabtu, 03 Oktober 2020

KECERDASAN SAYYIDINA ALI RA

*Kecerdasan Sayyidina Ali Berbicara 7000 Kata Tanpa Huruf Alif*

Sayidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah terkenal sebagai orang yang sangat cerdas. Bahkan kecerdasan Sayyidina Ali diakui oleh para sahabat Nabi yang lain. Selain itu Rasulullah Saw juga pernah bersabda,

انا مدينة العلم وعلي بابها...

“Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya”.

Kisah tentang kecerdasan sahabat Ali bin Abi Thalib sangat banyak sekali bahkan cukup melegenda di dunia keislaman. Bahkan beliau dikatakan alladzina dluribal matsalu bihim atau orang-orang yang kecerdasannya sampai dijadikan pepatah: cerdas bagai Ali. Dalam Syarh Nahjil Balaghoh, Ibnu Abil Hadid menceritakan kecerdasan Sayidina Ali bin Abi Thalib yang mufrith (di luar batas).

Dikisahkan suatu hari sahabat Nabi berkumpul dan saling berbincang. Para sahabat bercerita tentang huruf yang paling sulit dihindari dalam bahasa Arab. Mereka semua pada akhirnya bersepakat bahwa huruf yang paling sulit dihindari adalah huruf “alif” dan segala variasinya (hamzah washal, hamzah qath’, dan lain-lain).

Ali bin Abi Thalib yang mendengar hal itu tiba-tiba maju ke depan dan mulai berkhatbah. Beliau khatbah berisi sekitar tujuh ribu kata. Jika sekedar jumlah kata sudah biasa, namun ini sangat fenomenal bahkan diluar dugaan, karena semua kata yang digunakan tidak mengandung satu pun huruf “alif” (ا).

Khatbah sayyidina Ali ini dikenal dengan nama “khuthbah muniqah” yang berarti khatbah yang sangat luar biasa. Jelas luar biasa, bayangkan selain tidak mengandung huruf “alif”, khotbah itu diucapkan tanpa teks serta tanpa rancangan sebelumnya.

Berikut ini kutipan khatbah Sayyidina Ali serta terjemahnya:

حَمِدْتُ مَنْ عَظُمَتْ مِنَّتُهُ وَسَبَغَتْ نِعْمَتُهُ وَتَمَّتْ كَلِمَتُهُ وَنَفَذَتْ مَشِيَّتُهُ وَبَلَغَتْ حُجَّتُهُ وَعَدَلَتْ قَضِيَّتُهُ وَسَبَقَتْ غَضَبَهُ رَحْمَتُهُ
 
“Aku memuji Dzat yang anugerah-Nya agung, nikmat-Nya sempurna, Kalimat-Nya purna, dan kehendak-Nya selalu terjadi. Dzat yang bukti-bukti-Nya nyata, keputusan-Nya adil, dan Dzat yang rahmat-Nya selalu mendahului murka-Nya.”

حَمِدْتُهُ حَمْدَ مُقِرٍّ بِرُبُوبِيَّتِهِ مُتَخَضِّعٍ لِعُبُودِيَّتِهِ مُتَنَصِّلٍ مِنْ خَطِيئَتِهِ مُعْتَرِفٍ بِتَوْحِيدِهِ مُسْتَعِيذٍ مِنْ وَعِيدِهِ مُؤَمِّلٍ مِنْ رَبِّهِ مَغْفِرَةً تُنْجِيهِ يَوْمَ يَشْغَلُ كُلٌّ عَنْ فَصِيلَتِهِ وَبَنِيهِ

“Aku memuji-Nya dengan pujian orang yang mengakui ketuhanan-Nya, yang tunduk karena kehambannya, yang meminta maaf katena kesalahannya, yang mengakui ketauhidan-Nya, yang berlindung dari ancaman-Nya, serta memuji seperti orang yang senantiasa mengharap ampunan-Nya pada hari di mana semua orang tidak peduli kepada keluarga dan anaknya.”

وَشَهِدْتُ لَهُ شُهُودَ عَبْدٍ مُخْلِصٍ مُوقِنٍ ، وَفَرَّدْتُهُ تَفْرِيدَ مُؤْمِنٍ مُتَيَقِّنٍ، وَوَحَّدْتُهُ تَوْحِيدَ عَبْدٍ مُذْعِنٍ لَيْسَ لَهُ شَرِيكٌ فِي مُلْكِهِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ فِي صُنْعِهِ، جَلَّ عَنْ مُشِيرٍ وَوَزِيرٍ وَعَوْنٍ وَمُعِينٍ وَنَظِيرٍ

“Dan aku bersaksi untuk-Nya sebagaimana kesaksian seorang hamba yang ikhlas dan yakin. Mengesakan-Nya sebagaimana pengesaan orang beriman nan mantap. Serta mentauhidkan-Nya sebagaimana tauhid hamba yang taat. Dia tak memiliki sekutu di kerajaan-Nya, serta tidak memiliki pembantu dalam ciptaan-Nya. Maha agung Dia dari segala penunjuk, wazir, pertolongan, pembantu, serta sekutu.”

عَلِمَ فَسَتَرَ وَبَطَنَ فَخَبَرَ وَمَلَكَ فَقَهَرَ وَعُصِيَ فَغَفَرَ وَعُبِدَ فَشَكَرَ وَحَكَمَ فَعَدَلَ وَتَكَرَّمَ وَتَفَضَّلََ

“Ia mengetahui namun Ia menutup Dzat-Nya. Ia tersimpan namun Ia menunjukkan. Ia menguasai lalu Ia perkasa. Ia didurhakai namun Ia memaafkan. Ia disembah namun Ia menerima syukur. Ia memutuskan namun Ia tetap adil. Ia mulia dan Ia tetap memberi anugerah.”

لمْ يَزَلْ وَلَنْ يَزُولَ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْ‏ءٌ وَهُوَبَعْدَ كُلِّ شَيْ‏ءٍ ، رَبٌّ مُتَعَزِّزٌ بِعِزَّتِهِ مُتَمَكِّنٌ بِقُوَّتِهِ مُتَقَدِّسٌ بِعُلُوِّهِ مُتَكَبِّرٌ بِسُمُوِّهِ ، لَيْسَ يُدْرِكُهُ بَصَرٌ وَ لَمْ يُحِطْ بِهِ نَظَرٌ ، قَوِيٌّ مَنِيعٌ بَصِيرٌ سَمِيعٌ رَءُوفٌ رَحِيم

“Dia tidak sirna dan tidak akan sirna. Tidak ada yang menyerupai-Nya. Dia akan tetap ada setelah segala sesuatu sirna. Dia adalah Tuhan yang mulia karena memang Dia mulia. Dia Maha Mampu dengan kekuatan-Nya. Maha Suci karena keluhuran-Nya. Maha Sombong karena kebesaran-Nya. Tidak ada penglihatan yang bisa mengetahuinya. Tidak pula pandangan mampu meliputinya. Dia Maha Kuat, Maha Mencegah, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.”

عَجَزَ عَنْ وَصْفِهِ مَنْ وَصَفَهُ وَضَلَّ عَنْ نَعْتِهِ مَنْ عَرَفَهُ ، قَرُبَ فَبَعُدَ وَبَعُدَ فَقَرُبَ ، يُجِيبُ دَعْوَةَ مَنْ يَدْعُوهُ وَيَرْزُقُهُ وَيَحْبُوهُ ، ذُو لُطْفٍ خَفِيٍّ وَبَطْشٍ قَوِيٍّ وَرَحْمَةٍ مُوسَعَةٍ وَعُقُوبَةٍ مُوجِعَةٍ ، رَحْمَتُهُ جَنَّةٌ عَرِيضَةٌ مُونِقَةٌ ، وَعُقُوبَتُهُ جَحِيمٌ مَمْدُودَةٌ مُوبِقَةٌ

“Orang yang mendeskripsikannya akan kesulitan menjelaskan. Dan orang yang mengetahuinya akan tersesat dari sifatnya. Dia dekat namun jauh dan ia jauh namun dekat. Dia mengabulkan sesiapa yang berdoa; Dia memberinya rizki dan menganugerahkannya nikmat. Dia memiliki kelembutan yang samar, namun siksa yang juga besar. Dia memilki rahmat yang luas namun juga memliki siksa yang menyakitkan. Rahmatnya adalah surga yang lebar dan indah, siksanya adalah neraka yang panjang dan merusak.”

Itulah potongan khatbah Sayidina Ali yang begitu fenomenal. Walaupun memang tidak menyampaikan pesan khusus, namun nilai sastranya sangat luar biasa bahkan sepertinya belum ada yang menyamai.

Dalam ilmu badi’ (ilmu sastra bahasa Arab) kalimat seperti ini disebut “badi’ hadzf” atau suatu kalimat yang penyusunnya berkomitmen untuk tidak menggunakan huruf tertentu.

Selain pernah berpidato dengan tidak menggunakan huruf “alif”, pada kesempatan lain, Sayyidina Ali ternyata juga pernah menyusun pidato yang tidak menggunakan huruf رَ ب ت ق ث ش .
 
Ada yang mau mencoba, monggo?😬

Kamis, 24 Oktober 2019

KAUM BUMI DATAR

Kita sering mendengar ejekan kaum bumi datar yang ditujukan kepada umat Islam. Berikut sebuah tulisan menarik Tere Liye tentang 'bumi datar'.

"Kaum Bumi Datar"

Kalian kenal dengan orang ini? Saya juga tidak kenal, bukan tetangga saya di Bandung. Tapi mari kita kenalan dengan salah-satu ilmuwan terkemuka dunia Islam. Namanya lebih simpel dikenal: Al Battani. Nama lengkapnya panjang: Abū ʿAbd Allāh Muḥammad ibn Jābir ibn Sinān al-Raqqī al-Ḥarrānī aṣ-Ṣābiʾ al-Battānī. Dengan berjenggot, memakai sorban, Al Battani lebih mirip pemimpin klan yang dibenci jaman sekarang. Padahal, dia adalah ahli astronomi dan matematikawan hebat.

Lahir tahun 858 di Harran (sekarang lebih dikenal dengan Turki), ayahnya adalah pembuat alat2 scientific terkenal, maka tak pelak lagi, sejak kecil, dia terbiasa dengan pelajaran IPA. Dia tidak suka bolos pas pelajaran IPA, dan tidak membenci Matematika. Tumbuh-lah Al Battani menjadi penyuka astronomi. Dia mengamati bintang-gemintang, matahari, bulan, dia mengembangkan begitu banyak pengetahuan dunia ini.

Salah-satu penemuannya yang paling terkenal adalah menghitung bahwa satu tahun terdiri dari 365 hari 5 jam 46 menit dan 2 detik. Wah jaman itu, tahun 858, jangankan HP android, sepeda BMX saja belum ada di benak orang2. Dunia 'masih gelap', kagak ada itu lampu neon, lampu minyak sih ada, tapi Al Battani, sudah bisa menghitung tahun dengan akurat, membuktikan bahwa tanggalan kita kelebihan beberapa jam loh. Atau kalian benci sekali dengan persamaan trigonometri, yang harus dihafal bahwa tangen sama dengan sinus dibagi cosinus. Belum lagi akar tangen, bla-bla-bla... Arghhhh... itu nyebelin pelajarannya, maka ketahuilah, Pakde Al Battani inilah yang menemukannya. Trigonometri juga karib dengan astronomi, tidak heran dia menemukan persamaan ini.

Dan ketahuilah, Islam juga karib sekali dengan astronomi. Dalam agama Islam, penentuan bulan Ramadhan, hari raya, melewati perhitungan rumit dan juga lihat hilal. Penentuan kapan adzan maghrib, isya, dll, lihat benda langit, ini, itu, semua membutuhkan ilmu astronomi. Bahwa, bumi bergerak mengelilingi matahari, bahwa bulan berputar mengelilingi bumi, dan seterusnya. Bahwa Bumi itu bulat, Ndro.

Maka, mengherankan sekali, jika hari ini, ada sekelompok orang yang asyik banget melabeli pemeluk agama Islam dengan: "kaum bumi datar". Siapapun muslimnya, dia langsung nyolot, "Dasar lu kaum bumi datar". Ew, siapa sih orang2 ini? Duuuh, orang2 ini tidak pernah belajar sejarah, tidak pernah tahu apapun soal astronomi dalam agama Islam. Hanya karena ada 1-2 orang Islam yg bilang bumi ini datar, bukan berarti 1 milyar muslim lainnya bilang bumi ini datar. Lihatlah, AL Battani, seribu tahun silam dia bahkan sudah bisa menghitung tahun. Orang2 ini, entah apakah karena keterbatasan pengetahuannya, atau kebenciannya, sengaja betul melabeli Islam itu 'bodoh' soal astronomi.

Terakhir, ijinkan saya memberitahu kalian sebuah sejarah. Dari sekian banyak ahli astronomi Islam, kenapa saya mengambil AL Battani? Karena dialah penulis banyak karya, salah-satunya buku Kitāb az-Zīj ("Book of Astronomical Tables"). Saya tidak bilang buku ini 100% ide pemikiran Al Battani, karena di dalamnya juga banyak pemikiran astronomer2 sebelumnya seperti Ptolemy. Tapi adalah fakta, kalian tahu Copernicus? Yeah, dialah ashli astronomi yg dikenal dengan pernyataan 'matahari adalah pusat semesta, bukan bumi pusat semesta' tahun 1500-an. Kalian kenal dengan Galileo? Dia juga ahli astronomi yg harus menghadapi Roman Inquisition gara2 bilang bumi yang memutari matahari. Maka dua orang ini, menggunakan dan terinsipirasi dari karya2 Al Battani. Copernicus bahkan setidaknya 23 kali menyebut nama Al Battani di dalam tulisannya: De Revolutionibus Orbium Coelestium. Dua ahli astronomi yg lahir 700 tahun setelah AL Battani, 'meminjam' begitu banyak pengetahuan untuk membantah pendapat umum saat itu.

Demikianlah tentang Al Battani. Maka jika ada orang yang masih nyolot memaki pemeluk agama Islam (manapun) dengan sebutan: 'kaum bumi datar', ingatkan dia tentang sejarah. Ingatkan dia tentang, bahkan untuk urusan menentukan adzan shalat saja, Islam menggunakan ilmu astronomi. Tapi tidak perlu bertengkar dengan orang2 ini, karena repotnya bertengkar dengan mereka, justru kita yang akan disuruh belajar sejarah dan dimaki "sumbu pendek". [mediabangsaku.com / ymc]

Kamis, 07 Februari 2019

KEUTAMAAN ILMU DARIPADA HARTA

Belajarlah karena ilmu akan menjagamu selamanya
Berkata Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu :
العلمُ خيرٌ من المال:
1.العلمُ يحرِسُك وأنت تحرِسُ المال
َ2.العلمُ يزكُوْ على العمل والمالُ تنقُصُه النفقةُ،
3.ومحبةُ العالم دينٌ يُدان بها،
4. العلمُ يُكسِب العالمَ الطاعةَ في حياته وجميلَ الأُحْدُوْثَةِ بعد موته، وصنيعةُ المال تزول بزواله، مات خُزَّانُ الأموال وهم أحياءٌ، والعلماءُ باقُون ما بقي الدهرُ، أعيانُهم مفقودةٌ، وأمثالهُم في القلوب موجودةٌ.
Ilmu lebih baik daripada harta:
1.Ilmu akan menjagamu, sedang harta kamu yang menjaganya.
2.Ilmu bertambah dengan diamalkan, sedangkan harta berkurang setiap kali dikeluarkan
3.Mencintai orang yang berilmu adalah bagian dari agama yakni cinta yang mendekatkan seseorang kepada Agama Alloh
4.Ilmu menjadikan orang yang memilikinya taat semasa hidupnya dan disebut kebaikan setelah matinya.Dan yang dihasilkan oleh harta akan hilang bersama kemusnahannya.
Orang yang menumpuk harta mereka mati dalam keadaan hidup, dan para ulama tetap ada selamanya walau jasad mereka musnah tapi sifat-sifat teladan mereka hidup di dalam hati-hati manusia.

المفاتيح الأبرار

Selasa, 10 Juli 2018

MAHA BESAR ALLAH DALAM MENCIPTAKAN MAKHLUQ

KEAJAIBAN NYAMUK

Berat nyamuk hanya 0,001 gram.
Seekor nyamuk diletakkan di bawah mikroskop, diperbesar 400 kali.

Faktanya :👇
Di kepalanya terdapat 100 mata,
Di mulutnya ada 48 gigi,
Di dadanya ada 3 buah jantung,
(di tiap jantung ada 2 atrium, 2 bilik jantung, 2 katup jantung)

Nyamuk memiliki alat pendeteksi panas dan nyamuk melihat segala sesuatu dengan pendeteksi panasnya.

Memiliki alat pencair darah karena darah manusia itu kasar bagi nyamuk agar bisa mengalir di belalai nyamuk, dia (nyamuk) mengambil contoh darah dulu baru mulai menggigit.

Nyamuk memiliki alat pembius sehingga orang yang di ambil darahnya tidak merasa sakit saat proses pengambilan darah, beberapa detik kemudian barulah efek bius itu hilang.

Belalai nyamuk memiliki 6 buah pisau.
4 buah pisau untuk membuat luka berbentuk segi empat, sedang 2 pisau membentuk lubang sesuai tabung penghisap darah.

Di kaki nyamuk terdapat cakar dan terdapat alat seperti alat bekam sehingga dapat menempel di tempat yang licin.

Masya Allah...
Benar benar Allah tidak pernah mendzolimi mahluknya, dibalik senjata nyamuk untuk menghisap darah, Allah memberi obat bius untuk menjaga supaya manusia tidak merasa sakit karena Allah maha tahu manusia sulit sekali menghindar dari gigitan nyamuk. Berbeda dengan hewan lainnya di mana manusia masih bisa menghindar dari gigitan kalajengking, dll.

Masya Allah...
Semoga nyamuk yang kecil ini bisa menambah keimanan kita kepada Allah, Aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin..

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
❝Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan...❞
[QS. Al-Baqarah : 26]

Wallahu a’lam..

Senin, 09 Juli 2018

MANAQIB SYECH ABUBAKAR BIN SALIM

*AS SAYYID AL-IMAM AL-FAKHRUL WUJUD AL-HABIB SYEKH ABU BAKAR BIN SALIM  RADHIYALLAHU ANHU*

(Baca dgn keyakinan dan khusnudzon yg kuat)

MANAQIB BELIAU

Beliau lahir di Kota Tarim yang makmur, salah satu kota di Hadramaut, pada tanggal 13 Jumadi Ats-Tsani, tahun 919 H. Di kota itu, beliau tumbuh dengan pertumbuhan yang saleh, di bawah tradisi nenek moyangnya yang suci dalam menghafal Al-Quran.

Orang-orang terpercaya telah mengisahkan manakala beliau mendapat kesulitan menghafal Al-Quran pada awalnya. Ayahnya mengadukan halnya kepada Syeikh Al-Imam Syihabuddin bin Abdurrahman bin Syeikh Ali. Maka Syeikh itu bertutur: "Biarkanlah dia! Dia akan mampu menghafal dengan sendirinya dan kelak dia akan menjadi orang besar. Maka menjadilah beliau seperti yang telah diucapkan Syeikh itu. Serta-merta, dalam waktu singkat, beliau telah mengkhatamkan Al-Quran.

Kemudian beliau disibukkan dengan menuntut ilmu-ilmu bahasa Arab dan agama dari para pembesar ulama dengan semangat yang kuat, kejernihan batin dan ketulusan niat. Bersamaan dengan itu, beliau memiliki semangat yang menyala dan ruh yang bergelora. Maka tampaklah tanda-tanda keluhurannya, bukti-bukti kecerdasannya dan ciri-ciri kepimpinannya. Sejak itu, sebagaimana diberitakan Asy-Syilly dalam kitab Al-Masyra' Ar-Rawy, beliau membolak-balik kitab-kitab tentang bahasa Arab dan agama dan bersungguh-sungguh dalam mengkajinya serta menghafal pokok-pokok dan cabang-cabang kedua disiplin tersebut. Sampai akhirnya, beliau mendapat langkah yang luas dalam segala ilmu pengetahuan.

Beliau telah menggabungkan pemahaman, peneguhan, penghafalan dan pendalaman. Beliaulah alim handal dalam ilmu-ilmu Syariat, mahir dalam sastra Arab dan pandai serta kokoh dalam segenap bidang pengetahuan.

Dalam semua bidang tersebut, beliau telah menampakkan kecerdasannya yang nyata. Maka, menonjollah karya-karyanya dalam mengajak dan membimbing hamba-hamba Allah menuju jalan-Nya yang lurus.

SEMANGATNYA DALAM MENUNTUT ILMU DAN BERIBADAH

Sejak kecil beliau telah hafal Quran. Beliau menuntut ilmu dari Sayid Umar Ba Syaiban, Al Faqih Abdullah bin Muhammad Baa Makhramah dan Syeikh Ma’ruf bin Abdullah Ba Jamal As-Syibami Ad-Dua’ni. Beliau mempelajari Risalatul Qusyairiyah yang sangat terkenal dalam dunia tasawuf di bawah bimbingan Syeikh Umar bin Abdullah Baa Makhramah.

Beliau gemar menekuni ilmu pengetahuan, sampai-sampai beliau mengkhatamkan Ihya’ Ulumuddin-nya Hujatul Islam Al-Ghazali sebanyak 40 kali dan mengkhatamkan kitab fiqih Syafi’iyah, Al-Minhaj karya Imam Nawawi sebanyak tiga kali. Di antara kebiasaan beliau adalah memberikan wejangan kepada masyarakat setelah sholat Jumat.

Beliau banyak melakukan ibadah dan riyadhoh. Pernah selama waktu yang cukup lama beliau berpuasa dan hanya berbuka dengan kurma yang masih hijau. Selama 90 hari beliau berpuasa dan sholat malam di lembah Yabhur. Dan selama 40 tahun beliau sholat subuh di Masjid Baa Isa, di kota Lisk, dengan wudhu Isya.

Setiap malam beliau berziarah ke tanah pekuburan Tarim dan berkeliling untuk melakukan sholat di berbagai masjid di Tarim, dan beliau mengakhiri perjalanannya dengan sholat Subuh berjamaah di masjid Baa Isa. Sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah meninggalkan sholat witir dan dhuha.

Sepanjang hidupnya beliau berziarah ke makam Nabiyullah Hud sebanyak 40 kali. Setiap malam, selama 40 tahun, beliau berjalan dari Lisk menuju Tarim, melakukan sholat pada setiap masjid di Tarim, mengusung air untuk mengisi tempat wudhu, tempat minum bagi para peziarah, dan kolam tempat minum hewan.

Syeikh Abu Bakar bin Salim adalah syeikh Islam dan teladan manusia. Pemimpin alim ulama. Hiasan para wali. Seorang yang amat jarang ditemukan di zamannya. Da'i yang menunjukkan jalan Illahi dengan wataknya.

Pembimbing kepada kebenaran dengan perkataannya. Para ulama di zamannya mengakui keunggulannya. Dia telah menyegarkan berbagai warisan pendahulu-pendahulunya yang saleh. Beliaupun dipuji sebagai Titisan dari Hadrat Nabawi. Cabang dari pohon besar Alawi. Alim Rabbani. Imam kebanggaan Agama, Abu Bakar bin Salim Al-'Alawi, semoga Allah meridhainya.

HIJRAHNYA DARI TARIM

Beliau beranjak dari Kota Tarim ke kota lain bertujuan untuk menghidupkan pengajian. memperbarui corak dan menggalakkan dakwah Islamiyah di jantung kota tersebut. Maka berangkatlah beliau ke kota 'Inat, salah satu negeri Hadramaut. Beliau menjadikan kota itu sebagai kota hijrahnya. Di Kota itu beliau hidupkan dengan ilmu dan dipilihnya sebagai tempat pendidikan, pengajaran dan pembimbingan. Tinggallah di sana hingga kini, masjid yang beliau dirikan dan pemakaman beliau yang luas. Syahdan, berbondong-bondonglah manusia berdatangan dari berbagai pelosok negeri untuk menimba ilmunya. Murid-murid beliau mengunjunginya dari beragam tempat: Hadramaut, Yaman, Syam, India, Indus, Mesir, Afrika, Aden, Syihr dan Misyqash.

Para murid selalu mendekati beliau untuk mengambil kesempatan merasai gambaran kemuliaan dan menyerap limpahan ilmunya. Dengan merekalah pula, kota 'Inat yang kuno menjadi berkembang ramai. Kota itu pun berbangga dengan Syeikh Imam Abu Bakar bin Salim Al-'Alawi. Karena berkat kehadiran beliaulah kota tersebut terkenal dan tersohor, padahal sebelumnya adalah kota yang terlupakan.

AKHLAQ DAN KEMULIAANNYA

Kota ‘Inat sangat identik dengan Sayyidina As-Syĕkh Abû Bakar bin Sãlim Ra , sebagaimana dikatakan oleh Sayyidina Al-Imam Al-‘Arif billah Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Mahdhor dalam salah satu Risalah beliau :“Aku telah mendengar riwayat dari para kaum Sholihin bahwa As-Syĕkh Abû Bakar bin Sãlim Ra seringkali berkata :“iynatiy ‘iynatiy”, “Kota ‘Iynat adalah kotaku”

Sayyidina Al-Habib Al-Jalil Al-‘Allamah Hasan bin Isma’il Al-Hamid menerangkan hal ini :“Perkataan Sayyidina As-Syĕkh Abû Bakar bin Sãlim Ra ini mencerminkan bahwa kota ‘Iynat berada dibawah pengawasan dan kekuasaan ke-wilayahan beliau, barangsiapa yang membuat kerusakan dan kemungkaran di kota ‘Iynat maka orang tersebut akan mendapatkan bencana dalam waktu yang singkat”

Diriwayatkan dari Sayyidina Al-Imam Al-Jami’Al-‘Arif billah Al-Habib Ahmad bin Muhsin Al-Haddar :“Sekali waktu aku pernah bermimpi berjumpa dengan Sayyidina As-Syĕkh Abû Bakar bin Sãlim Ra dalam mimpiku tersebut, beliau menegur seseorang yang telah berbuat kemungkaran dalam kota ‘Inat, tak lama dari mimpiku tersebut kedua orang yang ternyata masih berbuat kemungkaran tersebut mati tanpa sebab yang jelas”

Syaikh Abu Bakar bin Salim RA adalah seorang dermawan dan murah hati, menginfakkan hartanya tanpa takut menjadi fakir. Dia memotong satu dua ekor unta untuk para peziarahnya, jika jumlah mereka banyak. Dan betapa banyak tamu yang mengunjungi ke pemukimannya yang luas.

Beliau amat mempedulikan para tamu dan memperhatikan keadaan mereka.Tidak kurang dari 1000 kerat roti tiap malam dan siangnya beliau sedekahkan untuk fuqara'. Kendati dia orang yang paling ringan tangannya dan paling banyak infaknya, dia tetap orang yang paling luhur budi pekertinya, paling lapang dadanya, paling sosial jiwanya dan paling rendah hatinya. Sampai-sampai orang banyak tidak pernah menyaksikannya beristirahat.

Syeikh ahli fiqih, Abdurrahman bin Ahmad Bawazir pernah berkata: "Syeikh Abu Bakar selama 15 tahun dari akhir umurnya tidak pernah terlihat duduk-duduk bersama orang-orang dekatnya dan orang-orang awam lainnya kecuali untuk menanti didirikannya sholat lima waktu".

Syeikh sangat mengasihani orang-orang lemah dan berkhidmat kepada orang-orang yang menderita kesusahan. Dia memperlihatkan dan menyenangkan perasaan mereka dan memenuhi hak-hak mereka dengan baik.

Selain murid-murid dan siswa-siswanya, banyak sekali orang berkunjung untuk menemuinya dari berbagai tempat; baik dari Barat ataupun Timur, dari Syam maupu Yaman, dari orang Arab maupun non-Arab. Mereka semua menghormati dan membanggakan beliau.

IBADAH DAN PENDIDIKANNYA

Seringkali beliau melakukan ibadah dan riyadhah. Sehingga suatu ketika beliau tidak henti-hentinya berpuasa selama beberapa waktu dan hanya berbuka dengan kurma muda berwarna hijau dari Jahmiyyah di kota Lisk yang diwariskan oleh ayahnya. Di abnar,beliau berpuasa selama 90 hari dan selalu sholat Subuh dengan air wudhu Isya' di Masjid Ba'isa di Kota Lask. Dalam pada itu, setiap malamnya di berangkat berziarah ke makam di Tarim dan sholat di masjid-masjid kota itu. Di masjid Ba'isa tersebut,beliau selalu sholat berjamaah. Menjelang wafat, beliau tidak pernah meningalkan sholat Dhuha dan witr.

Beliau selalu membaca wirid-wirid tareqat. beliau pribadi mempunyai beberapa doa dan salawat. Ada sebuah amalan wirid besar milik beliau yang disebut "Hizb al-Hamd wa Al-Majd" yang beliau diktekan kepada muridnya sebelum fajar tiba di sebuah masjid. Itu adalah karya terakhir yang disampaikan ke muridnya, Allamah Faqih Syeikh Muhammad bin Abdurrahman Bawazir pada tanggal 8 bulan Muharram tahun 992 H.

Ziarah ke makam Nabi Allah Hud a.s adalah kelaziman beliau yang lain. Sehingga Al-Faqih Muhammad bin Sirajuddin mengabarkan bahwa ziarah beliau mencapai 40 kali.

Setiap malam sepanjang 40 tahun, beliau beranjak dari Lask ke Tarim untuk sholat di masjid-masjid kedua kota tersebut sambil membawa beberapa tempat minum untuk wudhu, minum orang dan hewan yang berada di sekitar situ.

Ada banyak pengajaran dan kegiatan ilmiah yang beliau lakukan. Beliau membaca kitab Al-Ihya' karya Al-Ghazzali sebanyak 40 kali. Beliau juga membaca kitab Al-Minhaj-nya Imam Nawawi dalam fiqih Syafi'i sebanyak tiga kali secara kritis. Kitab Al-Minhaj adalah satu-satunya buku pegangannya dalam fiqih. Kemudian beliau juga membaca Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah di depan gurunya, Syaikh Umar bin Abdullah Bamakhramah.

DIANTARA KAROMAH2 BELIAU:

Beliau pernah berkata: “Seandainya aku tidak malu dengan Rosululllah SAW niscaya aku padamkan api neraka dengan kelingkingku saja.”

Beliau juga berkata, “Nadziriy wa nadziro nadziriy dakholal jannah.” (Orang yang melihatku dan orang yang melihat orang yang pernah melihatku akan masuk Surga)

Shohibul Maulid Simthud Durror as-Sayyid al-Imam al-Qutb al-Habib ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi Ra berkata,  “Di zaman Syekh Abu Bakar bin Salim Ra hidup, Qolam di Lauhil Mahfudz tidak bergerak mencatat keburukan ahli zaman.”

Habib Umar pernah berkata, "Semua orang yg hadir di haul Syekh Abu Bakar bin Salim akan mendapat syafaat beliau termasuk bagi mereka yg datang dg niat buruk sekalipun"

Habib Munzir dalam tausiyahnya pernah mengatakan bahwa Syekh Abu Bakar bin Salim adalah orang yg mahfudz (tidak pernah ihtilam/mimpi basah). Beliau juga bersungguh-sungguh dalam menjalankan sunnah-sunnah Nabi SAW. Pada masa akhir usia beliau, beliau berujar, "Sunnah-sunnah  Nabi seluruhnya sudah aku lakukan, kecuali satu, yaitu memanjangkan rambut hingga mencapai batas telinga". Sesudah itu beliau sakit, hingga rambut beliaupun bertambah panjang dan akhirnya mencapai batas telinga. Maka lengkap sudah semua sunnah Nabi telah beliau lakukan.

Demikian sedikit dari kisah perjalanan hidup Beliau. Masih banyak karomah2 lain yg ada pada diri Syekh Abubakar bin Salim.

Wallahu a'lam insyaallah bermanfaat.

MANAKIB KRAMAT LUAR BATANG

MANAQIB HABIB HUSEIN BIB ABU BAKAR AL AIDRUS
Al-Habib Husain bin Abu Bakar al-Aydrus (Luar Batang)

HABIB KERAMAT LUAR BATANG

Silsilah beliau : Habib Husein bin Abubakar bin Abdullah bin Husein bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Husein bin Abdullah al-Aydrus bin Abubakar Al-Sakran bin Abdurrahman Assaqqaf bin Muhammad Maula Al-Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al- Muhajir bin ‘Isa bin Muhammad An- Naqib bin Ali-‘Uraidhi bin Ja'far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Az- Zahra binti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam.

Beliau dilahirkan di sebuah desa yang bernama Ma’iqab Hadhramaut Yaman Selatan, dan pada usianya yang ke 11 tahun, beliau ditinggal wafat oleh ayahnya.

Selepas mangkat ayahnya, Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus hijrah ke kota Tarim, dan ternyata di pintu kota Tarim telah menunggu seorang wali besar, yaitu Quthbil Irsyad, Al-imam Abdullah Bin Alwy Alhaddad, yang langsung menyambut kedatangan dari Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus. Setelah tiba di kota Tarim, beliau didampingi oleh Al-Imam Abdullah Bin Alwy Alhaddad langsung berziarah kepada Sayyidina Faqih Muqaddam Al’imam Muhammad Bin Ali Ba’alawy, Sayyidina Abdurrahman Bin Muhammad Assegaf dan Datuk Beliau Sayyidina Abdullah Alaydrus Akbar. Al-imam Abdullah Bin Alwy Alhaddad mengatakan kepada beliau bahwa semalam kakekmu, Sayyidina Abdullah Alaydrus Akbar datang kepadaku dan mengabarkan tentang kedatanganmu wahai Husein.

Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus menimba ilmu kepada Quthbil Irsyad, Al-imam Abdullah Bin Alwy Alhaddad, dan menurut keterangan dari Alhabib Ali Bin Husein Alattas dalam kitabnya Taajul A’rasy mengatakan bahwa Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus sebelum hijrah ke Indonesia, beliau telah mendapatkan mandat kepercayaan dari guru beliau Al-imam Abdullah Bin Alwy Alhaddad untuk melaksanakan da’watul islam.

Al Imam Husein bin Abu Bakar Alaydrus kemudian hijrah ke India dan Asia Timur kemudian sampai di Indonesia, khususnya pulau Jawa tepatnya di Pelabuhan Sunda Kelapa, lalu setibanya di Pelabuhan Sunda Kelapa, beliau diusir kembali oleh penjajah Belanda. Akhirnya dengan bantuan para Muhibbin di malam hari dengan menggunakan sekoci beliau tiba kembali di Pelabuhan Sunda Kelapa. Beliau kemudian berda’wah di tanah Batavia ini dan pada saat itu penjajah Belanda sangat sensitif kepada para ulama karena di Sunda Kelapa ini masih ada bekas-bekas pertempuran Sunda Kelapa yang berada di bawah pimpinan dari Sunan Gunung Jati Al-imam Syarif Hidayatullah dan Fatahillah, sehingga penjagaannya sangat ketat dan berakibat pada dicurigainya Al-Habib Husein Bin Abu Bakar Alaydrus sebagai pemberontak, akhirnya beliau dimasukkan ke dalam penjara, yang berada di sekitar Glodok.

Perjuangan da’wah Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus sangatlah luar biasa, dan salah satu karomah beliau adalah di pagi hari beliau berada di dalam penjara sementara anehnya menjelang maghrib beliau sudah tidak ada di sana, beliau menyampaikan da’wah-da’wahnya di musholla dan masjid-masjid, sehingga membuat takut para sipir penjara dan akhirnya kepala sipir penjara tersebut meminta agar Habib Husein keluar saja dari dalam penjara tapi beliau menolak sampai akhirnya beliau keluar dari penjara dengan keinginannya sendiri.
Pada suatu ketika di dalam perjalanan da’wahnya, Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus melihat seorang tentara Belanda yang memang memiliki akhlak yang baik terhadap beliau, di mana tentara Belanda ini selalu menegur dan ramah terhadap Beliau. Akhirnya Habib Husein memanggilnya dan mengatakan bahwa tentara Belanda tersebut kelak akan menjadi Gubernur, di Batavia. tentara Belanda tersebut berkata sambil tertawa “mana mungkin aku menjadi seorang Gubernur”. Selang beberapa bulan kemudian sang tentara Belanda tersebut dipanggil ke negerinya dan kembali ke Batavia untuk dipercaya menjadi Gubernur.
Sang tentara Belanda yang kini telah menjadi Gubernur teringat akan Habib Husein dan menemui beliau seraya ta’jub atas perkataan dari Habib Husein dan sebagai balasannya Tentara ini memberikan hadiah berupa uang, bahkan emas, tetapi semuanya ditolak oleh Habib Husein.

Karena Gubernur tersebut memaksa, Akhirnya Al-habib Husein Bin Abu Bakar Alaydrus berkata bahwa jika Engkau ingin memberiku hadiah, maka berikanlah aku tanah yang berada di luar pelabuhan Sunda Kelapa yang saat itu sedang surut.

Tentara belanda tersebut kaget dan berkata percuma bila Aku berikan tanah tersebut, sebentar lagi air akan naik dan daratan itu akan terendam air laut. Al-habib Husein berkata “bila Engkau berikan sekarang, maka mulai saat ini air tidak akan pernah pasang bahkan hingga yaumil qiyamah”.sehingga akhirnya diberikanlah tanah tersebut.

Al-habib Husein Bin Abu Bakar Alaydrus memiliki tanah ± 10 hektar dan di atas tanah tersebut, kemudian pertama kali yang dibangun oleh Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus adalah Masjid, kemudian rumah beliau yang saat ini menjadi tempat pusaranya. Dan semenjak itu, dipatok tanah-tanah tersebut yang besarnya ± sampai 10 hektar dengan pilar dan batang-batang sehingga daerah ini dikenal dengan sebutan “Luar Batang”, disebabkan diluar pelabuhan Sunda Kelapa muncullah batang-batang. Di sini beliau bersama salah satu muridnya Haji Abdul Qodir yang merupakan penerjemahnya untuk mengajarkan kepada murid-muridnya yang datang dari Banten, Indramayu, Cirebon, Tuban Gresik dan pelosok-pelosok kota lain di Indonesia.

Dalam ajaran Islam karomah di maksudkan sebagai khariqun lil adat yang berarti kejadian luar biasa pada seseorang wali Allah. Karomah merupakan tanda-tanda kebenaran sikap dan tingkah laku seseorang, yang merupakan anugrah Allah karena ketakwaannya, berikut ini terdapat beberapa karomah yang dimiliki oleh Al Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus atau yang kita kenal Habib Luar Batang, seorang wali Allah yang lahir di Jazirah Arab dan telah ditakdirkan wafat di Pulau Jawa, tepatnya di Jakarta Utara.

Habib Husain adalah seorang imam yang utama dan seorang alim yang senantiasa mengamalkan ilmunya.
Suatu ketika ia pergi dari Hadhramaut ke Jawa dengan tujuan ke kota Jakarta dengan maksud berdagang. Tetapi pertolongan Allah menariknya ke medan dakwah.

Pada awalnya orang-orang belum mau mengikutinya. Tetapi setelah mereka merasakan keberkahannya dan menyaksikan hal-hal di luar kebiasaan pada dirinya, barulah orang-orang mendatanginya dari mana saja. Maka Habib Husain pun menyeru mereka ke jalan Allah dan mengingatkan mereka tentang hari Kiamat. Banyak orang yang masuk Islam lewat tangannya, bahkan setelah ia wafat.

Para pejabat pemerintah setempat pun segan terhadapnya dan menghormatinya, baik ketika ia masih hidup maupun setelah wafatnya. Mereka sering membawakan hadiah-hadiah dan nazar-nazar, tetapi ia sendiri tidak mempedulikannya.

Terkadang ia jauhi dan ia tinggalkan pemberian itu, agar diambil oleh orang yang membutuhkannya.
Mengapa begitu?karena Habib Husain tidak membutuhkannya, karena ia seorang yang selalu beribadah, hidup seadanya, berlaku zuhud, dan banyak tenggelam dalam musyahadah (menyaksikan dengan mata bathin) Tuhannya.

Ia mengasingkan diri dari orang-orang di pinggir laut di suatu tempat yang kemudian dinamakan “Luar Batang”, lokasi yang berada di luar batas Pelabuhan Sunda Kelapa saat itu. Di situ pula ia membangun masjid, dan setelah wafat ia pun dimakamkan di situ.

Habib Husain wafat pada tanggal 17 Ramadhan 1169 H/27 Juni 1756 M. Sejak itu setiap hari makam Luar Batang selalu dipenuhi para peziarah yang berdatangan dari berbagai pelosok.

Di sebelah timur makam Habib Husain terdapat makam murid terdekat Habib Husain dari kalangan pribumi sekaligus penerjemahnya, yakni Haji Abdul Qadir. Sumber lain mengatakan, ia seorang dari etnis Tionghoa yang sudah masuk Islam. Ada keterangan yang mengatakan bahwa Habib Husain pernah berkata demikian, “Barang siapa tidak menziarahi Haji Abdul Qadir, tidak diterima ziarahnya.”
Demikian yang dituturkan oleh Habib Husain bin Ali Al-Attas (Habib Ali Bungur) dalam karya monumentalnya, Tajul A‘ras, jilid II halaman 391-393.

Ada banyak kisah yang dituturkan orang mengenai karamah Habib Husain Al-Aydrus ini. Di antaranya suatu ketika seorang opsir Belanda lewat di depan Habib Husain. Tanpa dinyana, Habib memanggil orang itu lalu menepuk pundaknya dan berkata, “Anda harus kembali ke negeri Anda. Anda akan menjadi orang besar.”
Perwira itu hanya bisa tertegun. Tetapi lantaran cerita karamah Habib Husein sudah termasyhur di kalangan masyarakat Betawi, ia pun menuruti sarannya.
Dan betul saja, tak lama kemudian terdengar kabar bahwa ia telah diangkat menjadi seorang gubernur. Maka, sebagai ungkapan rasa terima kasih, sang gubernur baru itu datang lagi ke Batavia hanya untuk bertemu Habib Husain buat memberikan hadiah khusus, yang bentuk dan jenisnya terserah Habib. Tetapi sesampainya di sana, ternyata Habib menolak segala pemberian itu.
Akhirnya, karena didesak terus, Habib Husain memilih satu kawasan tempat tinggal sebagai pusat dakwah, yang tak lain adalah Luar Batang. Konon, dulunya kawasan yang dimiliki Habib itu seluas 30 hektare, tetapi kemudian dibagi-bagikan kepada warga sekitar. Sejak itu, Luar Batang menjadi salah satu basis Islam di bumi Jayakarta.

Kini, Luar Batang menjadi kawasan padat penduduk. Bahkan karena dekat pantai, kawasan itu terkesan kumuh. Tetapi toh tempat itu tak pernah sepi pengunjung.

Tidak sedikit peziarah yang “bermukim” di sana hingga berbulan-bulan demi mendapatkan keberkahan sang habib. Bahkan di antara mereka banyak juga yang datang dari luar Jawa dan mancanegara, seperti Timur Tengah, Eropa, dan Afrika.

Makam yang tak pernah sepi itu kian ramai jika malam Jum’at tiba. Begitu juga pada peringatan Maulid Nabi dan haul wafat sang habib (karena wafat pada bulan Ramadhan, peringatan haulnya diadakan pada bulan Syawwal). Hingga kini, sebagian besar rombongan Walisanga yang datang dari arah timur menjadikan makam Habib sebagai “bonus” ziarah setelah berziarah ke wali kesembilan, yakni makam Sunan Gunung Jati, di Cirebon.

Kalau kemudian makam Habib Husain menjadi salah satu tujuan para peziarah, itu tak lain karena keagungan Habib Husain, baik budi pekerti maupun ilmu pengetahuan agamanya. Ia adalah dai besar di kawasan Batavia abad ke-18 hingga Islam tersebar luas di sana.

Jika pada abad ke-18 tokoh habaib yang sangat terkenal adalah Habib Husain bin Abu Bakar Al-Aydrus, pada abad ke-19 setidaknya ada dua nama yang sangat menonjol. Yakni Habib Ahmad bin Muhammad Bin Hamzah Al-Attas, yang mendirikan Masjid Zawiyah di Pekojan, dan Habib Utsman bin Abdullah Bin Yahya, yang popularitasnya tak perlu di ragukan lagi. Keduanya hidup kurang lebih semasa di tempat yang tidak terlalu berjauhan meskipun tidak didapatkan keterangan mengenai hubungan antara keduanya.

1. Menjadi mesin pemintal

Di masa muda, ditanah kelahirannya yaitu di daerah Hadhramaut – Yaman Selatan, Habib Husein berguru pada seorang Alim Shufi. Di hari-hari libur ia pulang untuk menyambang ibunya.

Pada suatu malam ketika ia berada di rumahnya, ibu Habib Husein meminta tolong agar ia bersedia membantu mengerjakan pintalan benang yang ada di gudang. Habib Husein segera menyanggupi, dan ia segera ke gudang untuk mengerjakan apa yang di perintahkan oleh ibunya. Makan malam juga telah disediakan. Menjelang pagi hari, ibu Husein membuka pintu gudang. Ia sangat heran karena makanan yang disediakan masih utuh belum dimakan husein. Selanjutnya ia sangat kaget melihat hasil pintalan benang begitu banyaknya. Si ibu tercengang melihat kejadian ini. Dalam benaknya terpikir bagaimana mungkin hasil pemintalan benang yang seharusnya dikerjakan dalam beberapa hari, malah hanya dikerjakan kurang dari semalam, padahal Habib Husein dijumpai dalam keadaan tidur pulas disudut gudang.

Kejadian ini oleh ibunya diceritakan kepada guru thariqah yang membimbing Habib Husein. Mendengar cerita itu maka ia bertakbir sambil berucap : “ sungguh Allah berkehendak pada anakmu, untuk di perolehnya derajat yang besar disisi-Nya, hendaklah ibu berbesar hati dan jangan bertindak keras kepadanya, rahasiakanlah segala sesuatu yang terjadi pada anakmu.”

2. Menyuburkan Kota Gujarat

Hijrah pertama yang di singgahi oleh Habib Husein adalah di daratan India, tepatnya di kota Surati atau lebih dikenal Gujarat. Kehidupan kota tersebut bagaikan kota mati karena dilanda kekeringan dan wabah kolera.

Kedatangan Habib Husein di kota tersebut di sambut oleh ketua adat setempat, kemudian ia dibawa kepada kepala wilayah serta beberapa penasehat para normal, dan Habib Husein di perkenalkan sebagai titisan Dewa yang dapat menyelamatkan negeri itu dari bencana.

Habib Husein menyangupi bahwa dengan pertolongan Allah, ia akan merubah negeri ini menjadi sebuah negeri yang subur, asal dengan syarat mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima Islam sebagai agamanya. Syarat tersebut juga mereka sanggupi dan berbondong-bondong warga di kota itu belajar agama Islam.

Akhirnya mereka di perintahkan untuk membangun sumur dan sebuah kolam. Setelah pembangunan keduanya di selesaikan, maka dengan kekuasaan Allah turun hujan yang sangat lebat, membasahi seluruh daratan yang tandus. Sejak itu pula tanah yang kering berubah menjadi subur. Sedangkan warga yang terserang wabah penyakit dapat sembuh, dengan cara mandi di kolam buatan tersebut. Dengan demikian kota yang dahulunya mati, kini secara berangsur-angsur kehidupan masyarakatnya menjadi sejahtera.

3. Mengislamkan tawanan

Setelah tatanan kehidupan masyarakat Gujarat berubah dari kehidupan yang kekeringan dan hidup miskin menjadi subur serta masyarakatnya hidup sejahtera, maka Habib Husein melanjutkan hijrahnya ke daratan Asia Tenggara untuk tetap mensiarkan Islam. Beliau menuju pulau Jawa, dan akhirnya menetap di Batavia. Pada masa itu hidup dalam jajahan pemerintahan VOC Belanda.

Pada suatu malam Habib Husein dikejutkan oleh kedatangan seorang yang berlari padanya karena di kejar oleh tentara VOC. Dengan pakaian basah kuyub ia meminta perlindungan karena akan dikenakan hukuman mati. Ia adalah tawanan dari sebuah kapal dagang Tionghoa.
Keesokan harinya datanglah pasukan tentara berkuda VOC ke rumah Habib Husein untuk menangkap tawanan yang dikejarnya. Beliau tetap melindungi tawanan tersebut, sambil berkata : “Aku akan melindungi tawanan ini dan aku adalah jaminannya.”

Rupanya ucapan tersebut sangat di dengar oleh pasukan VOC. Semua menundukkan kepala dan akhirnya pergi, sedangkan tawanan Tionghoa itu sangat berterima kasih, sehingga akhirnya ia memeluk Islam.

4. Menjadi Imam di Penjara

Dalam waktu singkat telah banyak orang yang datang untuk belajar agama Islam. Rumah Habib Husein banyak dikunjungi para muridnya dan masyarakat luas. Hilir mudiknya umat yang datang membuat penguasa VOC menjadi khawatir akan menggangu keamanan. Akhirnya Habib Husein beserta beberapa pengikut utamanya ditangkap dan di masukan ke penjara Glodok. Bangunan penjara itu juga dikenal dengan sebutan “Seksi Dua.”

Rupanya dalam tahanan Habib Husein ditempatkan dalam kamar terpisah dan ruangan yang sempit, sedangkan pengikutnya ditempatkan di ruangan yang besar bersama tahanan yang lain.

Polisi penjara dibuat terheran-heran karena ditengah malam melihat Habib Husein menjadi imam di ruangan yang besar, memimpin shalat bersama-sama para pengikutnya. Hingga menjelang subuh masyarakat di luar pun ikut bermakmum. Akan tetapi anehnya dalam waktu yang bersamaan pula polisi penjara tersebut melihat Habib Husein tidur nyenyak di kamar ruangan yang sempit itu, dalam keadaan tetap terkunci.

Kejadian tersebut berkembang menjadi buah bibir dikalangan pemerintahan VOC. Dengan segala pertimbangan akhirnya pemerintah Belanda meminta maaf atas penahanan tersebut, Habib Husein beserta semua pengikutnya dibebaskan dari tahanan.

5. Si Sinyo menjadi Gubernur

Pada suatu hari Habib Husein dengan ditemani oleh seorang mualaf Tionghoa yang telah berubah nama Abdul Kadir duduk berteduh di daerah Gambir. Disaat mereka beristirahat lewatlah seorang Sinyo (anak Belanda) dan mendekat ke Habib Husein. Dengan seketika Habib Husein menghentakan tangannya ke dada anak Belanda tersebut. Si Sinyo kaget dan berlari ke arah pembantunya.

Dengan cepat Habib Husein meminta temannya untuk menghampiri pembantu anak Belanda tersebut, untuk menyampaikan pesan agar disampaikan kepada majikannya, bahwa kelak anak ini akan menjadi seorang pembesar di negeri ini.

Seiring berjalannya waktu, anak Belanda itu melanjutkan sekolah tinggi di negeri Belanda. Kemudian setelah lulus ia di percaya di angkat menjadi Gubernur Batavia.

6. Cara Berkirim Uang

Gubernur Batavia yang pada masa kecilnya telah diramal oleh Habib Husein bahwa kelak akan menjadi orang besar di negeri ini, ternyata memang benar adanya. Rupanya Gubernur muda itu menerima wasiat dari ayahnya yang baru saja meninggal dunia. Di wasiatkan kalau memang apa yang dikatakan Habib Husein menjadi kenyataan diminta agar ia membalas budi dan jangan melupakan jasa Habib Husein.
Akhirnya Gubernur Batavia menghadiahkan beberapa karung uang kepada Habib Husein. Uang itu diterimanya, tetapi dibuangnya ke laut.

Demikian pula setiap pemberian uang berikutnya, Habib Husein selalu menerimanya, tetapi juga dibuangnya ke laut. Gubernur yang memberi uang menjadi penasaran dan akhirnya bertanya mengapa uang pemberiannya selalu di buang ke laut. Dijawabnya oleh Habib Husein bahwa uang tersebut dikirimkan untuk ibunya ke Yaman.

Gubernur itu dibuatnya penasaran, akhirnya diperintahkan penyelam untuk mencari karung uang yang di buang ke laut, walhasil tak satu keeping uang pun diketemukan. Selanjutnya Gubernur Batavia tetap berupaya untuk membuktikan kebenaran kejadian ganjil tersebut, maka ia mengutus seorang ajudan ke negeri Yaman untuk bertemu dan menanyakan kepada ibu Habib Husein.
Sekembalinya dari Yaman, ajudan Gubernur tersebut melaporkan bahwa benar adanya. Ibu Habib Husein telah menerima sejumlah uang yang di buang ke laut tersebut pada hari dan tanggal yang sama.

7. Kampung Luar Batang

Makam Luar Batang Gubernur Batavia sangat penuh perhatian kepada Habib Husein. Ia menanyakan apa keinginan Habib Husein. Jawabnya : “Saya tidak mengharapkan apapun dari tuan.” Akan tetapi Gubernur itu sangat bijak, dihadiahkanlah sebidang tanah di kampung baru, sebagai tempat tinggal dan peristirahatan yang terakhir.

Habib Husein meninggal pada hari kamis tanggal 17 Ramadhan 1169 atau bertepatan tanggal 27 Juni 1756 M. sesuai dengan peraturan pada masa itu bahwa setiap orang asing harus di kuburkan di pemakaman khusus yang terletak di Tanah Abang.

Sebagai mana layaknya, jenazah Habib Husein di usung dengan kurung batang (keranda). Ternyata sesampainya di pekuburan jenasah Habib Husein tidak ada dalam kurung batang. Anehnya jenasah Habib Husein kembali berada di tempat tinggal semula. Dalam bahasa lain jenasah Habib Husein keluar dari kurung batang, pengantar jenasah mencoba kembali mengusung jenasah Habib Husein ke pekuburan yang dimaksud, namun demikian jenasah Habib Husein tetap saja keluar dan kembali ke tempat tinggal semula.

Akhirnya para pengantar jenasah memahami dan bersepakat untuk memakamkan jenasa Habib Husein di tempat yang merupakan tempat rumah tinggalnya sendiri. Kemudian orang menyebutnya “Kampung Baru Luar Batang” dan kini dikenal sebagai “Kampung Luar Batang.”

Selama beberapa waktu beliau berada di Banten dan seperti kebiasaan beliau di mana pun berada selalu yang utama adalah berdakwah, demikian juga pada saat di Banten beliau melakukan dakwah tidak kenal waktu siang dan malam. Setelah berdakwah di Banten beliau melanjutkan perjalanan dakwahnya ke Cirebon, dalam perjalanan dakwahnya di Cirebon ini beliau Al Imam Habib Husein Abubakar Alaydrus menikah dengan seorang Syarifah dari marga bin Yahya yang bernama Aminah kemudian melahirkan seorang putri yang diberi nama Fatimah.

Syarifah Fatimah binti al Imam Habib Husein Abubakar al Aydrus terus kemudian dinikahkan dengan Sayyid Thoha bin Yahya yang bergelar As Sayyid Tohir juga seorang Guru Besar yang di akui keallamahan dan keshalihannya yang menjadi guru juga panutan sultan, para Adipati dan Senopati di wilayah Jawa dan karena itu beliau diberi gelar oleh keraton dengan nama Kanjeng Raden Tumenggung Ronggo Prawiro Kusumo sekaligus dikenal sebagai bapak umat di wilayah Asia Afrika karena sebelum menetap di Mataram beliau pernah tinggal di Pakistan, India dan penang Malaysia.

Dari pernikahan Sayyid Thoha bin Yahya dengan Sarifah Fatimah binti al Imam Habib Husein bin Abubakar Al Aydrus melahirkan empat Putra yaitu:

1. As Sayyid Al Syarif Hasan bin Toha bin Yahya dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Soemodiningrat seorang Senopati Mataram. yang di makamkan di Semarang, terkenal juga dengan Kramat Jati.

2. As Sayyid Al Syarif Husein dengan gelar Sayid Kramat Gunung Tugel beliau seseorang yang menjadi panutan dan guru beberapa ulama besar pada saat itu.

3. As Sayyid Al Syarif Alwi yang berdomisili di Majalengka dan mempunyai pondok pesantren serta ribuan Santri.

4. Syarifah Alawiyah/Aliyah yang bergelar Raden Ayu Dewi Notokusumo (nantinya menjadi istri Sri sultan Hamengkubuwono II).

Sekembalinya Al Imam Habib Husein Abubakar Alaydrus ke daerah Sunda Kelapa yang dikenal dengan Luar Batang akhirnya beliau berdomisili di tanah yang diberikan oleh Gubernur Batavia saat itu dan meneruskan dakwah di sana sampai Beliau wafat. Dan pada saat itu Sayid Thoha dan keluarga kemudian berdomisili di daerah Depok Semarang dan bersama Adipati Semarang waktu itu yaitu Raden Kertoboso atau Sayid Abdullah membantu perjuangan Pangeran Mangkubumi untuk mendirikan Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat yang akhirnya dengan bantuan banyak pihak dan terutama dukungan Sayid Thoha dan beberapa Adipati berdirilah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pangeran Mangkubumi naik tahta dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Setelah beberapa lama tinggal di Semarang Sayid Thoha kemudian tinggal lagi di Penang dan beberapa waktu kemudian Sayid Thoha mendengar bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono I dibuang ke Penang oleh Belanda, mendengar hal tersebut membuat Sayid Thoha sangat prihatin dan marah. Kemudian Sayid Thoha membuat surat yang ditujukan kepada Thomas Stanford Raffles yang isinya agar segera mengembalikan Sri Sultan Hamengkubuwono I ke Mataram dan apabila Sir Thomas Stamford Raffles tidak mau maka Sayid Thoha bersama pasukannya akan mengobarkan peperangan di Asia Afrika.

Sir Thomas Standford Raffles mendengar permintaan dari Sayid Thoha tidak punya pilihan lain yaitu mengembalikan beliau Sri Sultan Hamengkubuwono I ke Tanah Mataram. Dan Sri Sultan Hamengkubuwono I sendiri meminta kepada Sayid Thoha agar diantar oleh beliau ke Tanah Mataram.

Dan begitu sampai di Mataram Sayid Thoha dinikahkan dengan salah seorang putri dari Sri Sultan Hamengkubuwono I karena memang dari sisi usia Sayid Thoha jauh lebih muda dari Sri Sultan Hamengkubuwono I, dan akhirnya Sayid Thoha kembali mendiami Depok Semarang.

Putra putri As-Sayyid Thoha bin Muhammad al-Qadhi bin Yahya antara lain :

Dengan istri Syarifah Aisyah binti Al Imam Hasan bin Imam Abdulloh bin Hasan Al Idrus melahirkan :

1.As Sayid Al Syarif Abdulloh.
2.As Sayid Al Syarif Abdurrahman.
3. As Sayid Al Syarif Muhammad
4.As Sayid Al Syarif Ahmad al Akbar
5.As Sayid Al Syarif Yasin.
6. As Sayid Al Syarif Sholeh Kramat Sedo Laut.
7.As Sayid Al Syarif Abubakar.
8. Syarifah Alwiyah

Dengan Istri Syarifah Fatimah Binti Husein bin Abubakar Alaydrus melahirkan :

1.As Sayid Al Syarif Ali meninggal di Banten dan dimakamkan di daerah Tanara.
2.As Sayid Al Syarif Hasan yang bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Senopati Agung Wedono Lebet Soemodiningrat.
3.As Sayid Al Syarif Husein.
4.As Sayid Al Syarif Alwi meninggal di Majalengka

Dengan Istri Raden Ayu Dewi Notokusumo binti Sri Sultan Hamengkubuwono I melahirkan :

1.As Sayid Al Syarif Hamid / Abdul Hamid ( Pangeran Diponegoro )
2.As Sayid Al Syarif Ahmad Al Asghor bergelar Raden Soemonegoro / Raden Soemodirjo meninggal di Jepara.
3.Syarifah Fatimah
4.Syarifah Aliyah bergelar Raden Ayu Panji

Putra-putra dari Sayid Thoha selain dibina langsung oleh ayahandanya juga kemudian diberangkatkan ke sumber-sumber ilmu di wilayah Asia Afrika khususnya Haromain, Hadramaut, Mesir dan India. Dan tidak satupun dari putra putri beliau yang tidak menjadi alim dan semua menjadi wali quthub.

Al Imam Habib Husein Abu Bakar Alaydrus mempunyai istri seorang Syarifah bernama Aminah keturunan bin Yahya kemudian menurunkan satu putri bernama Fatimah yang dipersunting kerabat Prawiro Kusumo yang saat itu sedang mendapat tugas khusus dari Kerajaan Mataram untuk melihat kondisi prajurit Kerajaan Mataram yang dikirim ke Teluk Jakarta setelah melakukan pengepungan di Batavia.

Setelah mereka menikah mereka kemudian menurunkan seorang putri yang menjadi salah satu istri selir dalem Sri Sultan Hamengkubuwono II yang dan Raden Ayu Dewi Notokusumo. Dan setelah menjadi istri Sri Sultan Hamengkubuwono II kemudian melahirkan beberapa putri dan salah seorang putri beliau yang bernama Bendoro Raden Ayu Nitinegoro dan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono II dinikahkan dengan Habib Hasan bin Thoha bin Muhammad bin Toha bin Yahya, karena pada waktu itu Habib Hasan bin Toha bin Yahya atau yang lebih dikenal dengan Syekh Kramat Jati merupakan Panglima Perang Mataram yang tiada duanya dan tanpa tanding juga sangat setia kepada Sri Sultan Hamengkubuwono II sehingga beliau diberi gelar Raden Tumenggung Senopati Agung Wedono Lebet Ngayogyakarta Soemodiningrat, dan dari keturunan Habib Hasan bin Muhammad bin Toha bin Yahya ini Syiar Islam berkembang di wilayah Kerajaan Mataram, khususnya perkembangan thariqot di lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan beberapa kerajaan di Tanah Jawa.

Al-Imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus Wafat pada Malam 17 Ramadhan, akan tetapi mengapa acara haul beliau diperingati setiap hari Ahad di akhir bulan Syawwal?
Karena ini merupakan ijtima’ dari para ulama dan habaib yang saat itu berada di bawah pimpinan Mufti Betawi yaitu Alhabib Utsman Bin Abdullah Bin Yahya. Di mana para penjajah saat itu masih menguasai dan transportasi yang sangat sulit sekali serta bertepatan dengan keadaan orang-orang yang sedang berpuasa, sehingga diputuskanlah oleh para ulama dan habaib agar pelaksanaan Haul Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus diadakan pada akhir Ahad bulan Syawwal, di mana setelah orang-orang melaksanakan silaturrahim lebaranan barulah kembali berkumpul dan bersilaturrahim di pusara beliau untuk memperingati Haulnya Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus.

Inilah sekelumit tentang perjalanan dan perjuangan dari Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus. Semoga Allah semakin mengangkat derajat beliau dan semoga kita semua mendapatkan curahan keberkahan, rahasia -rahasia dan ilmu serta karomah dari Al-imam Husein Bin Abu Bakar Alaydrus.. Amin Ya Robbal Alamin.

Rabu, 22 November 2017

KEUTAMAAN DALAM MEMPERINGATI MAULID NABI SAW.

Di dalam kitab "An-Ni'matul Kubra 'alal 'Alami fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam" halaman 5-7, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami (909-974 H. /1503-1566 M.), cetakan "Maktabah al-Haqiqat" Istambul Turki,
diterangkan tentang keutamaan-keutamaan memperingati maulid Nabi Muhammad saw sebagai berikut : 📜Sayyiina Abu Bakar RA. berkata:
من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كانرفيقي في الجنة
Artinya : "Barangsiapa menyebarkan luaskan dan membelanjakan satu dirham (uang emas) untuk malam lahirku mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka ia akan menjadi temanku di surga.
📜 Berkata Sayyidina Umar RA.:
من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد أحيا الإسلام
Artinya : Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, maka sesungguhnya ia telah menghidupkan Islam.
📜 Berkata Sayyidina Utsman RA.:
من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم فكأنما شهد غزوة بدر وحنين
Artinya : "Barangsiapa membelanjakan satu dirham (uang mas) untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi dimalam lahirku SAW, maka seakan-akan ia ikut-serta menyaksikan perang Badar dan Hunain.
📜 Sayyidina Ali RA. berkata:
من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم وكان سببا لقراءته لا يخرج من الدنيا إلا بالإيمان ويدخل الجنة بغير حساب
Artinya : "Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, dan ia menjadi sebab dilaksanakannyapembacaan maulid Nabi dimalam lahirku, maka tidaklah ia keluar dari dunia melainkan dengan keimanan dan akan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.
📜 Imam Hasan Bashri RA. berkata:
وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا فأنفقته على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم
Artinya: "Aku senang sekali seandainya aku memiliki emas sebesar gunung Uhud, maka aku akan membelanjakannya untuk kepentingan memperingati maulid Nabi SAW.
📜Imam Junaedi al-Baghdadi, semoga Allah membersihkan sir (rahasia)-nya, berkata:
من حضر مولد النبي صلى الله عليه وسلم وعظم قدره فقد فاز بالإيمان
Artinya : "Barangsiapa menghadiri malam peringatan Maulid Nabi SAW dan mengagungkan derajat beliau, maka sesungguhnya ia akan memperoleh kebahagian dengan penuh keimanan.
📜Imam Ma'ruf al-Karkhi, semoga Allah membersihkan sir (rahasia)-nya:
من هيأ طعاما لأجل قراءة مولد النبي صلى الله عليه و سلم و جمع اخوانا و أوقد سراجا و لبس جديدا و تبخر و تعطر تعظيما لمولد النبي صلى الله عليه و سلم حشره الله يوم القيامة مع الفرقة الأولى من النبيينو كان فى أعلى عليين
Artinya:"Barangsiapa menyediakan makanan untuk peringatan pembacaan Maulid Nabi SAW, mengumpulkan saudara-saudaranya, menyalakan lampu, memakai pakaian yang baru,memasang harum-haruman dan memakai wangi-wangian karena mengagungkan malam kelahiran Nabi SAW, niscaya Allah akan mengumpulkannya
pada hari kiamat bersama golongan orang-orang yang pertama di kalangan para nabi dan dia akan ditempatkan di syurga yang paling atas (‘Illiyyin).
📜 Imam Fakhruddin ar-Razi berkata:
ما من شخص قرأ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على ملح أو بر أو شيئ أخر من المأكولات الا ظهرت فيهالبركة و فى كل شيئ وصل اليه من ذلك المأكول فانه يضطرب و لا يستقر حتى يغفر الله لأكله وان قرئمولد النبي صلى الله عليه وسلم على ماء فمن شرب من ذلك الماء دخل قلبه ألف نور و رحمة و خرج منه ألف غل و علة و لا يموت ذلك القلب يوم تموت القلوب . و من قرأ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على دراهم مسكوكة فضة كانت أو ذهبا و خلط تلك الدراهم بغيرها و قعت فيها البركة و لا يفتقر صاحبها و لا تفرغ يده ببركة النبي صلى الله عليه و سلم
Artinya:“Tidaklah seseorang yang membaca maulid Nabi saw. ke atas garam atau gandum atau makanan yang lain, melainkan akan tampak keberkatan padanya, dan setiap sesuatu yang sampai kepadanya (dimasuki) dari makanan tersebut, maka akan bergoncang dan tidak akan tetap sehingga Allah akan mengampuni orang yang memakannya.Dan sekirannya dibacakan maulid Nabi saw. ke atas air, maka orang yang meminum seteguk dari air tersebut akan masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, akan keluar daripadanya seribu sifat dengki dan penyakit dan tidak akan mati hati tersebut pada hari

dimatikannya hati-hati itu.Dan barangsiapa yang membaca maulid Nabi saw. pada suatu dirham y

ang ditempa den gan perak atau emas dan dicampurkan dirham tersebut dengan yang lainnya, maka akan jatuhke atas dirham tersebut keberkahan dan pemiliknya tidak akan fakir serta tidak akan kosong tangannya dengan keberkahan Nabi saw.”
📜 Imam Syafi'i, semoga Allah merahmatinya, berkata:
من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم
Artinya:"Barangsiapa mengumpulkan saudara-saudaranya untuk mengadakan Maulid Nabi, dimalam kelahiranku kemudian menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan untuk mereka, dan dia menjadi sebab atas dibacakannya Maulid Nabi SAW, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama golongan shiddiqin (orang-orang yang benar), syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan shalihin (orang-orang yang shaleh) dan dia akan dimasukkan ke dalam surga-surga Na’im.
📜Imam Sirri Saqathi, semoga Allah membersihkan sir (bathin)-nya:
من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليهوسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع الا لمحبة النبي صلى الله عليه و سلم . وقد قال صلى الله عليه و سلم : من أحبني كان معي فى الجنة
Artinya:"Barangsiapa pergi ke suatu tempat yang dibacakan di dalamnya maulid Nabi saw, maka sesungguhnya ia telah pergi ke sebuah taman dari taman-taman syurga, karena tidaklah ia menuju ke tempat-tempat tersebut melainkan karena cintanya kepada Nabi saw. Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam syurga.
📜Imam Jalaluddin as-Suyuthi berkata:
مامن بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا حفت الملائكة ذلك البيت أو المسجد أو المحلة وصلت الملائكة على أهل ذلك المكان وعمهم الله تعالى بالرحمة والرضوان.وأما المطوفون بالنور يعنى جبريل و ميكائيل و اسرافيل و عزرائيل عليهم الصلاة و السلام فانهم يصلون على من كان سببا لقراءة النبي صلى الله عليه و سلم. و قال أيضا: ما من مسلم قرأ فى بيته مولد النبي صلى الله عليه و سلم الا رفع الله سبحانه و تعالى القحط والوباء والحرق والغرق والأفات والبليات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص من أهل ذلك البيت فاذا مات هون الله عليه جواب منكر ونكير ويكون فى مقعد صدق عند مليك مقتدر. فمن أراد تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم يكفيه هذا القدر. ومن لم يكن عنده تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم لو ملأت له الدنيا فى مدحه لم يحرك قلبه فى المحبة له صلى الله عليه وسلم.
“Tidak ada rumah atau masjid atau tempat yg di dalamnya dibacakan maulid Nabi SAW melainkan malaikat akan mengelilingi rumah atau masjid atau tempat itu, mereka akan memintakan ampunan untuk penghuni tempat itu, dan Allah akan melimpahkan rahmat dan keridhaan-Nya kepada mereka.”Adapun para malaikat yang dikelilingi dengan cahaya adalah malaikat Jibril, Mika’il, Israfil, dan Izra’il as. Karena, sesungguhnya mereka memintakan ampunan kepada Allah swt untuk mereka yang menjadi sebab dibacakannya pembacaan maulid Nabi saw. Dan, dia berkata pula: Tidak ada seorang muslimpun yang dibacakan di dalam rumahnya pembacaan maulid Nabi saw melainkan Allah swt menghilangkan kelaparan, wabah penyakit, kebakaran, tenggelam, bencana, malapetaka, kebencian, hasud, keburukan makhluk, dan pencuri dari penghuni rumah itu. Dan, apabila iameninggal, maka Allah akan memudahkan jawabannya dari pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir dan dia akan berada di tempat duduknya yang benar di sisi penguasa yang berkuasa. Dan, barangsiapa ingin mengagungkan maulid Nabi saw, maka Allah akan mencukupkan derajat ini kepadanya. Dan, barangsiapa di sisinya tidak ada pengagungan terhadap maulid Nabi saw, seandainya penuh baginya dunia di dalam memuji kepadanya, maka Allah tidak akan menggerakkan hatinya di dalam kecintaannya terhadap Nabi saw.”
اللهم اجعلنا ممن يفرح بمولد النبي العظيم.......
واجعلنا يا رب من اهلينا واولادنا وذرياتنا والمسلمين اجمعين قرة اعين للنبي صلي الله عليه وسلم.......امين

Selasa, 14 November 2017

KEWAJIBAN MENGGODHO' SHOLAT

***TATA CARA MENGQODHA' SHOLAT YG DI TINGGALKAN***

Ada empat golongan, bila ia meninggalkan shalat maka tidak berkewajiban untuk mengqadha (mengganti) shalat yang ditinggalkannya, yaitu : Wanita haid atau nifas, anak kecil yang belum baligh, orang gila dan orang kafir. Selain itu makatidak ada satupun manusia yang terbebas dari kewajiban shalat. Entah shalat itu dikerjakan pada waktunya, ataupun waktu shalat itu sudah terlewat, tetap saja kewajiban shalatnya menjadi hutang yang akan ditagih di hari kiamat nanti. Empat imam madzhab sepakat bahwa mengqadha shalat yang ditinggalkan itu hukumnya wajib.

Shaikh Abdurrahman Al-Jaziri dalam kitabnya menegaskan :

قضاء الصلاة المفروضة التي فاتت واجب على الفور سواء فاتت بعذر غير مسقط لها أو فاتت بغير عذر أصلا باتفاق ثلاثة من الأئمة. الشافعية قالوا : إن كان التأخير بغير عذر وجب القضاء على الفور وإن كان بعذر وجب على التراخي

Hukum mengqadha shalat fardhu menurut kesepakatan tiga madzhab (Hanafi, Maliki dan Hanbali) adalah wajib dan harus dikerjakan sesegera mungkin baik shalat yang ditinggalkan sebab adanya udzur (halangan) atau tidak. Sedangkan menurut madzhab Syafi’i qadha shalat hukumnya wajib dan harus dikerjakan sesegera mungkin bila shalat yang ditinggalkan tanpa adanya udzur dan bila karena udzur, qadha shalatnya tidak diharuskan dilakukan sesegera mungkin. (Kitab Al-Fiqhu 'Alal Madzahibil Arba'ah, Juz I, halaman 757)

Tata cara mengqadha (mengganti) shalat yang ditinggalkan ada tiga prinsip mendasar, yaitu :

*1. Jenis shalatnya sesuai*

Bila shalat yang diringgalkan adalah shalat shubuh, maka shalat penggantinya juga harus shalat shubuh. Tidak bisa dan tidak sah kalau diganti dengan shalat dzhuhur, ashar, maghrib atau shalat isyak.

*2. Waktu penggantian*

Waktu untuk melakukan penggantian shalat ini sebenarnya bebas tanpa aturan. Sehingga shalat penggantian ini bisa dilakukan kapan saja, tanpa harus terikat dengan waktu-waktu khusus.

Boleh mengqadha semua shalat yang ditinggalkan salam satu waktu. Qadha shalat dzuhur tidak harus pada waktu dzuhur, demikian juga shalat wajib lainnya. Cara qadhanya sebaiknya secara tertib (tertib ini tidak wajib), seperti melakukan dulu shalat dzuhur kemudian ashar, mahgrib, isyak dan subuh.

Memang ada sebagian kalangan yang menyarankan agar waktu penggantian disesuaikan dengan waktu shalat yang ditinggalkan. Misalnya untuk mengganti shalat maghrib maka dilakukan pada waktu maghrib. Untuk mengganti shalat subuh dilakukan penggantiannya di waktu subuh.

Sebenarnya ini cuma saran untuk memudahkan, tetapi ini bukan ketentuan baku. Buktinya justru Rasulullah saw sendiri malah tidak melakukannya. Beliau mengganti shalat yang terlewat justru bukan di waktu shalat itu. Dalam hadits disebutkan.

قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ إِنَّ الْمُشْرِكِيْنَ شَغَلُوْا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ يَوْمَ الْخَنْدَقِ حَتَّى ذَهَبَ مِنَ اللَّيْلِ مَا شَاءَ اللهُ فَأَمَرَ بِلاَلاً فَأَذَّنَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعِشَاءَ

Abdullah bin Mas'ud berkata : Orang orang Musyrik telah menyibukkan Rasulullah saw dari melaksanakan empat waktu shalat, pada hari perang Khandaq sampai malam berlalu dengan kehendak Allah. Kemudian beliau memerintahkan Bilal (untuk mengumandangkan adzan), maka Bilal pun mengumandangkan adzan dan Iqamat. Beliau kemudian melaksanakan shalat zhuhur, kemudian Bilal iqamat lalu beliau shalat ashar. Kemudian Bilal iqamat lalu beliau shalat maghrib. Kemudian Bilal iqamat lalu beliau melaksanakan shalat isyak. (H. R. Tirmidzi no. 179, Nasa'i no. 661, Baihaqi no. 1967, dan lainnya)

Imam Nawawi dalam kitabnya menegaskan :

حَاصِل الْمَذْهَب : أَنَّهُ إِذَا فَاتَتْهُ فَرِيْضَة وَجَبَ قَضَاؤُهَا ، وَإِنْ فَاتَتْ بِعُذْرٍ اُسْتُحِبَّ قَضَاؤُهَا عَلَى الْفَوْرِ وَيَجُوز التَّأْخِير عَلَى الصَّحِيْحِ . وَحَكَى الْبَغَوِيُّ وَغَيْرُهُ وَجْهًا : أَنَّهُ لَا يَجُوز وَإِنْ فَاتَتْهُ بِلَا عُذْرٍ وَجَبَ قَضَاؤُهَا عَلَى الْفَوْرِ عَلَى الْأَصَحِّ ، وَقِيْلَ : لَا يَجِبُ عَلَى الْفَوْرِ ، بَلْ لَهُ التَّأْخِيْرِ ، وَإِذَا قَضَى صَلَوَات اُسْتُحِبَّ قَضَاؤُهُنَّ مُرَتَّبًا ، فَإِنْ خَالَفَ ذَلِكَ صَحَّتْ صَلَاته عِنْدَ الشَّافِعِيّ وَمَنْ وَافَقَهُ سَوَاء كَانَتْ الصَّلَاة قَلِيلَة أَوْ كَثِيرَة

Kesimpulan madzhab (atas hadits qadha) : bahwasanya apabila tertinggal satu shalat fardhu, maka wajib mengqadhnya. Apabila tertinggal shalat karena udzur, maka disunnahkan mengqadhanya sesegera mungkin tapi boleh mengakhirkan qadha menurut pendapat yang shahih. Imam Baghawi dan lainnya menceritakan suatu pendapat: bahwasanya tidak boleh mengakhirkan qadha. Kalau lalainya shalat tanpa udzur, maka wajib mengqadha sesegera mungkin menurut pendapat yang lebih shahih. Menurut pendapat lain, tidak wajib menyegerakan qadha. Artinya, boleh diakhirkan. Dan apabila mengqadha beberapa shalat fardhu, maka disunnahkan mengqadhanya secara urut. Apabila tidak dilakukan secara berurutan, maka shalatnya tetap sah menurut Imam Syafi'i dan yang sepakat dengannya baik shalat yang tertinggal sedikit atau banyak. (Kitab Syarah Shahih Muslim, Juz II, halaman 486)

*3. Jumlah Shalatnya Sesuai*

Jumlah shalat pengganti harus sesuai dengan jumlah shalat yang ditinggalkan. Prinsip ini sangat masuk akal dan logis. Orang yang berhutang 1 juta maka wajib mengganti 1 juta. Maka hutang shalat lima waktu dalam sehari semalam, maka wajib diganti dengan shalat yang sama sebanyak shalat yang ditinggalkan dalam sehari semalam.

Yang seringkai jadi masalah, ada sementara orang yang sampai lupa berapa kali meninggalkan shalat. Mungkin sebabnya boleh jadi selama ini dia berpikir bahwa shalat yang ditinggalkan itu tidak perlu diganti. Tentu pemikiran ini termasuk pemikiran sesat dan menyesatkan. Entah siapa yang awalnya berfatwa macam ini, yang jelas jumhur ulama empat madzhab semua sepakat bahwa shalat yang ditinggalkan wajib diganti.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya menegaskan :

وَقَالَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَقْضِيَ حَتَّى يَتَيَقَّنَ بَرَاءَةَ ذِمَّتِهِ مِنِ الْفُرُوضِ، وَلَا يَلْزَمُ تَعْيِينُ الزَّمَنِ، بَلْ يَكْفِي تَعْيِينُ الْمَنْوِيِّ كَالظُّهْرِ أَوِ الْعَصْرِ مَثَلًا

Ulama dari kalangan madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali berpendapat : Wajib baginya untuk mengqadha shalat yang pernah ditinggalkan sampai ia yakin bebas dari kewajibannya berupa shalat-shalat fardlu (yang pernah ditinggalkan), dan tidak harus menentukan waktunya, tetapi cukup dengan menentukan yang diniati (shalat yang pernah ditinggalkan) seperti dzuhur atau Ashar. (Kitab  Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Juz II, halaman 143)

Syaikh Ibnu Qudamah (bermadzhab Hanbali) dalam kitabnya menegaskan :

إذا كثرت الفوائت عليه يتشاغل بالقضاء ما لم يلحقه مشقة في بدنه أو ماله
Bila shalat yang ditinggalkan terlalu banyak maka wajib menyibukkan diri untuk menqadhanya, selama tidak menjadi masyaqqah (kesulitan) pada tubuh atau hartanya. (Kitab Al-Mughni, Juz I, halaman 681)

Minggu, 12 November 2017

SHOLATMU ADALAH CERMIN HIDUPMU

 
من تعود على تأخير الصلاة. رجل او إمراة ،

Barang siapa terbiasa mengakhirkan sholat, baik laki-laki maupun perempuan.
فليتهيأ للتأخير في كُل أمور
حياته.
Maka bersiaplah ia terlambat dalam segala urusan kehidupannya !!
زواج ، وظيفة ، ذُرية ، عافية ، تكملة ،. توفيق
. Nikah, pekerjaan, keturunan, kesehatan, kemapanan, petunjuk.

قالُ الحَسنُ البَصري:
Hasan Albashri berkata : 
إذَا هَانَت عَليكَ صَلاتك فَمَا الذي يَعزُ عَليـكْ ؟.

Jika sholat saja sepele bagimu, maka adakah urusan yg penting menurutmu ? 
بقدر ماتتعدل صلاتك تتعدل حياتك.

.Seperti apa engkau merubah sholatmu, sperti itulah engkau merubah hidupmu.
ألم تعلم أن الصلاة اقترنت بالفـلاح.

Tidakkah engkau tahu bahwa sholat itu bergandengan dg kesuksesan“.
حي على الصلاة حي على الفلاح”.

"Marilah melakukan sholat, marilah meraih kesuksesan". 
فكيف تطلب من الله التوفيق وأنت لحقه غير. مجيب.

Bagaimana mungkin engkau minta kesuksesan kepada Alloh, sedangkan kamu tidak tunaikan hakNya.
اللهم اجعلنا ممن يقيم الصلاة في. وقتها. ،،،Ya Alloh, jadikanlah kami termasuk orang yg mendirikan sholat tepat pada waktunya.